skin ads
skin ads
Hikmah

Makna Idul Fitri Menurut Al Quran dan Hadits bagi Umat Islam

Kastolani Marzuki · Senin, 31 Maret 2025 - 10:03 WIB
Makna Idul Fitri Menurut Al Quran dan Hadits bagi Umat Islam
Ilustrasi makna idul Fitri menurut Al Quran dan Hadits. (freepik)

JAKARTA, iNews.id - Makna Idul Fitri menurut Al Quran dan hadits bagi umat Islam yakni bersyukur atas sempurnanya ibadah puasa yang dijalani hingga kembali ke fitrahnya semula (Idul Fitri). 

Wakil Katib PWNU Jabar, KH Kurnali Sobandi menjelaskan, Idul Fitri merupakan hari raya bagi umat Islam. Maknanya yaitu merayakan kegembiraan atas sempurnanya ibadah puasa satu bulan penuh yakni Bulan Ramadhan.

Kegembiraan di hari raya Idul Fitri setelah sempurnanya ibadah puasa sebulan penuh selama Ramadhan adalah dikarenakan pada hari itu Allah kembali mengunjungi hambanya dengan membawa kebaikan dan kegembiraan dengan diampuninya dosa-dosa, sehingga kita benar-benar kembali kepada fitrah Islamiyah, itulah sebabnya disebut hari raya Idul Fitri.

Untuk mengungkapkan rasa gembira, suka cita maka disunnahkan pada hari raya Idul Fitri dengan ungkapan tahni’ah (ucapan selamat) dan musafahah (salaman).

Makna Idul Fitri Menurut Al Quran dan Hadits

Melansir laman Kementerian Agama, secara harfiah, Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Ar-Ruum: 30).

Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai seruan agar manusia kembali pada aturan agama. Fitrah manusia adalah kecenderungan untuk berpegang pada ajaran tauhid. Oleh karena itu, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen refleksi sejauh mana kita telah menjaga kesucian hati dan iman yang diperoleh selama Ramadan.

Ironisnya, makna Idul Fitri kerap mengalami pergeseran seiring waktu. Beberapa fenomena yang mencerminkan penyimpangan dari makna sejatinya antara lain:

Pertama, merasa merdeka setelah Ramadan berakhir. Banyak yang melihat Ramadan sebagai “penjara” yang mengekang kebebasan. Begitu Syawal tiba, mereka seakan terbebas dari belenggu, merayakannya dengan pesta pora tanpa kendali. Fenomena ini telah diingatkan dalam Al-Qur’an:

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)." (QS. Al-A’raf: 179).

Orang yang terjebak dalam siklus ini tidak benar-benar memahami esensi Ramadan sebagai bulan pendidikan spiritual.

Kedua, mengklaim kemenangan tanpa perjuangan. Sebagian orang mengklaim kemenangan Idul Fitri padahal selama Ramadan tidak melakukan perjuangan berarti, baik dalam ibadah personal maupun sosial. Mereka bahkan tetap menjalankan kebiasaan buruk, lalu tiba-tiba merayakan kemenangan dengan gegap gempita. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

"Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 8).

Kemenangan sejati hanya bagi mereka yang benar-benar berjuang melawan hawa nafsu selama Ramadan.

Ketiga, kesucian yang hanya tampak luar. Idul Fitri sering diidentikkan dengan pakaian baru, makanan melimpah, dan perayaan besar. Namun, bagaimana dengan pakaian batin kita? Allah berfirman:

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik." (QS. Al-A’raf: 26).

Kesucian yang sejati bukan sekadar penampilan fisik, tetapi hati yang bersih dari kesombongan, iri, dan dengki.

Keempat, silaturahmi yang hanya formalitas. Silaturahmi dan saling memaafkan menjadi tradisi Idul Fitri. Namun, apakah maaf yang kita ucapkan benar-benar tulus? Ataukah hanya sebatas formalitas di media sosial? Rasulullah SAW telah memperingatkan tanda-tanda orang munafik:

"Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Silaturahmi yang hakiki adalah yang benar-benar membersihkan hati dari dendam dan prasangka buruk.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri sejatinya bukan untuk bersenang-senang namun bersyukur kepada Allah SWT dengan banyak berzikir dan membesarkan nama Allah.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

Artinya: Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya. (Al-Baqarah: 185)

Yakni agar kalian ingat kepada Allah di saat ibadah kalian selesai. Ayat tersebut semakna dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

فَإِذا قَضَيْتُمْ مَناسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آباءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً

Artinya: Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. (Al-Baqarah: 200)

Juga firman Allah Swt.:

سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبارَ السُّجُودِ

Artinya: Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai salat. (Qaf: 39-40).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan kandungan ayat tersebut sebagaimana disebutkan di dalam sunnah bahwa disunatkan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap sesudah mengerjakan salat lima waktu. Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, "Kami tidak mengetahui selesainya salat Nabi Saw. melainkan melalui takbirnya."

Kalangan ulama yang mengatakan bahwa membaca takbir disyariatkan dalam Hari Raya Idul Fitri atas dasar firman-Nya: 

"Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan-Nya kepada kalian. (Al-Baqarah: 185) 

Setelah mengagungkan nama Allah dengan bertakbir, selanjutnya diperintahkan untuk banyak bersyukur.

Firman Allah Swt.:

{وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}

Artinya: Supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah: 185)

Makna dari ayat tersebut yakni apabila kalian mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian (yakni taat kepada-Nya dan mengerjakan semua yang difardukan-Nya dan meninggalkan semua apa yang diharamkan-Nya serta memelihara batasan-batasan-Nya), barangkali kalian akan menjadi orang-orang yang bersyukur kepada-Nya karena mengerjakan hal tersebut.

Makna Idul Fitri menurut Al Quran juga disebutkan dalam Surat Al A'la ayat 14-15.

{قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى}

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). (Al-A’la: 14)

Yakni menyucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang rendah dan mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Rasul-Nya, semoga salawat dan salam terlimpahkan kepadanya.

Firman Allah Swt.:

{وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى}

Artinya: dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat. (Al-A'la: 15)

Maknanya yakni, mendirikan salat tepat pada waktunya masing-masing karena mengharapkan rida Allah dan taat kepada perintah-Nya serta merealisasikan syariat-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Khaldah yang telah mengatakan, bahwa ia masuk menemui Abul Aliyah, lalu Abul Aliyah mengatakan kepadanya.”Jika besok hari kamu berangkat menuju ke salat hari raya maka mampirlah kepadaku." Kemudian aku (perawi) mampir kepadanya dan ia berkata, "Apakah engkau telah makan sesuatu?." Aku menjawab, "Ya." Ia berkata, "Kalau begitu aku akan menyajikan air minum kepadamu". Aku menjawab, 'Baiklah."

Lalu ia berkata, "Ceritakanlah kepadaku apa yang telah engkau lakukan terhadap zakatmu." Aku menjawab, "Aku telah menyalurkannya." Ia berkata, "Sesungguhnya aku bermaksud menanyakan hal berikut kepadamu," kemudian ia membaca firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat. (Al-A'la: 14-15)

Dari Amirul Mu’minin Umar ibnu Abdul Aziz, bahwa dia selalu menganjurkan orang-orang untuk mengeluarkan zakat fitrah dan membaca firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri , (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat. (Al-A'la: 14-15)

Dari penjelasan Surat Al Baqarah ayat 185 dan Surat Al A'la ayat 14-15 jelas menyebutkan bahwa makna Idul Fitri menurut Al Quran yakni menjadi manusia yang kembali ke fitrahnya dengan pandai bersyukur, banyak berdzikir, mengagungkan asma Allah dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat.

Wallahu A'lam


Editor : Kastolani Marzuki

Follow Berita iNews di Google News