skin ads
skin ads

Melihat Lebih Dekat Kemegahan Masjid Salman Al Farisi di Malang, Berdesain Mirip Taj Mahal

Avirista Midaada ยท Jumat, 07 Maret 2025 - 13:47 WIB
Melihat Lebih Dekat Kemegahan Masjid Salman Al Farisi di Malang, Berdesain Mirip Taj Mahal
Suasana bangunan Masjid Salman Al Farisi di Malang yang punya desain menyerupai bangunan Taj Mahal di India. (Foto: Avirista Midaada/MPI)

MALANG, iNews.id - Masjid Salman Al Farisi berdiri megah di Jalan Karang Ampel RT 8 RW 2 Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Masjid ini punya julukan 'Taj Mahal' Malang karena punya desain yang sekilas menyerupai bangunan ikonik di India tersebut.

Masjid Salman Al Farisi berlokasi di dataran tinggi yang dikelilingi perkebunan jeruk. Kemegahan masjid ini seolah-olah seperti Taj Mahal dalam versi mini.

Tampak dari luar, bangunan bercat putih itu berbentuk persegi dan terdapat tujuh menara. Kemudian adaa tiga kubah kecil dan satu kubah dalam ukuran besar yang menyatu dengan bangunan dasar masjid.

Kubah kecil dan menara itulah yang sekilas tampak depan menyerupai Taj Mahal di India. Desain ini masih terlihat cukup artistik hingga saat ini meski masjid sudah berusia sekitar 10 tahun.

Sementara di area halaman sebelah timur masjid, terhampar pemandangan indah Kota Malang dari kejauhan. Tak hanya itu, perkebunan jeruk dan udara segar khas dataran tinggi membuat masjid ini cukup nyaman digunakan untuk tempat beribadah dan menenangkan pikiran.

Memasuki bangunan utama masjid dari teras utara, timur dan selatan, terdapat beberapa tiang penopang bangunan masjid. Menariknya pada tiang yang dibentuk melengkung di bagian tembok, terdapat rongga-rongga dengan motif menyerupai kelompok bunga yang menarik.

Desain itu juga terdapat di pintu masuk dari halaman masjid menuju ke teras serambi utara, timur dan selatan. Sementara di bangunan utama dalam masjid terdapat tiga tiang pilar utama yang menyokong masjid setinggi kurang lebih 8 meter di area dalam ruangan utama.

Sementara di bagian atas terdapat kubah besar di tengah bangunan utama dalam masjid.

Desain dalam masjid lagi-lagi memadukan corak antara India dan nuansa Eropa klasik. Meskipun dari sisi warna cat sudah mulai pudar, tapi terlihat keunikan desain masjid ini.

Nama masjid ini diambil dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW, Salman Al Farisi yang menjadi pengusul pembuatan parit, pada Perang Khondaq. 

Di area dalam aktivitas keagamaan seperti mengaji, salat sunah, hingga sekadar berdiskusi oleh para santri dilakukan. Kebetulan lokasi masjid satu ini berada satu kompleks dengan bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hamra yang terdapat lembaga pendidikan SMP dan SMA.

Pengurus Takmir Masjid Salman Al Farisi Ustad Deden Ferry mengatakan, bangunan masjid ini dibangun prosesnya sejak 2012 lalu. Saat itu proses awal yakni pembelian tanah - tanah yang merupakan area perkebunan jeruk warga. Saat itu kata dia, ada sejumlah donatur yang akhirnya bersedia membantu proses pendirian masjid.

"Dimulai dari pembelian tanah - tanah dahulu. Kemudian sedikit demi sedikit pembangunan masjid, masjid di tahun 2016 sudah jadi. Alhamdulillah atas izin Allah waktu itu tiba-tiba ada soal beberapa orang donatur yang mereka langsung apa ya bersodakoh," ucap Deden Ferry saat ditemui di masjid, Jumat (7/3/2025).

Selama proses pembangunan menurutnya, ada tim desain khusus dari dewan pembina. Proses pembangunan masjid mulai dari pembebasan lahan, dimulai selama kurang lebih 4 tahun dan itu menjadi kewenangan tim pembangunan.

"Memang waktu itu kami nggak dilibatkan (untuk desain dan lain-lain), ada tim sendirian yang diamanahkan untuk membangun masjidnya itu, sehingga memang kami nggak tahu persis bagaimana filosofi yang mendasari, sehingga membangun dengan apa namanya tampilan seperti ini," ucapnya.

Dia baru menempati masjid itu di tahun 2016 bersama sang istri. Kebetulan di sisi utara masjid itu juga dilengkapi rumah untuk tempatnya tinggal. Saat jadi itulah, dia baru menyadari bangunan masjid itu menyerupai bangunan Taj Mahal di India, tapi dia tak tahu apa makna dari desain menyerupai Taj Mahal yang dibuat arsitek dan tim pembina masjid.

"Pertama saya ke sini saya nggak sadar juga, tapi ketika saya melihat, dari depan saya itu terbayang kayak apa ya, kayak pernah tahu bangunan apa, terus tiba-tiba kata istri saya ini bilang kayak Taj Mahal, oh ya memang sepintas mirip," katanya.

Awalnya masjid ini menempati tanah seluas 1,2 hektare, belum ada bangunan apa pun di sekitarnya. Di bangunan masjid seluas 1.278 meter persegi sekitarnya dahulu hanyalah perkebunan jeruk warga, dan belum ada lembaga pendidikan seperti saat ini,

bahkan bangunan rumah warga dan tempat usaha lain pun masih jarang.

"(Masjid ini awalnya) Masih asing jadi waktu itu baru bangun masjid di sini, belum ada yang bangun masjid di sini, masih semak belukar, belum ada bangunan di sini, masih asing, orang ke sini masih takut, saya tinggal di sini 2016, mulai kita ada komunikasi dengan masyarakat, dengan pemerintah desa dalam perjalanannya didirikan lembaga pendidikan," ucapnya.


Editor : Donald Karouw

Follow Berita iNews di Google News