skin ads
skin ads

Serunei Tradisional Masjid Agung Bireuen Viral, Penanda Waktu Imsak dan Buka Puasa yang Unik

Jamal Pangwa ยท Jumat, 07 Maret 2025 - 15:19 WIB
Serunei Tradisional Masjid Agung Bireuen Viral, Penanda Waktu Imsak dan Buka Puasa yang Unik
Masjid Agung di Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh menjadi sorotan saat Ramadhan 1446 Hijriah berkat keunikan tradisinya. (Foto: Jamal Pangwa).

BIREUEN, iNews.id - Masjid Agung di Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh menjadi sorotan saat Ramadhan 1446 Hijriah berkat keunikan tradisinya. Alat tradisional untuk menandai waktu berbuka puasa dan imsak, mencuri perhatian publik hingga viral di media sosial. 

Suaranya yang khas menyerupai alarm pemadam kebakaran tersebut memberikan nuansa tradisional yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Alat tradisional yang dikenal bernama serunei ini pertama kali digunakan pada 2007 dan merupakan hasil daur ulang dari sirene mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen yang sudah tidak layak pakai. 

Alat berbentuk bulat ini menghasilkan bunyi lantang saat diputar pada besi as dan kini dihubungkan ke sistem pengeras suara atau mikrofon sehingga suaranya dapat terdengar hingga satu kecamatan.

Operator Masjid Agung, Tgk Jafaruddin Abdullah mengatakan, serunei memiliki berbagai fungsi, seperti tanda waktu berbuka puasa, waktu imsak, hari besar hingga pelepasan jamaah haji. 

"Ini banyak sekali manfaatnya, pertama digunakan untuk waktu berbuka puasa dan kedua waktu imsak selanjutnya juga bisa digunakan untuk hari besar termasuk untuk pelepasan jamaah haji," ujar Tgk Jafaruddin Abdullah, Jumat (7/3/2025).

Petugas yang menghidupkan serunei, Teungku Muhammad Zulfatan menjelaskan, untuk waktu berbuka puasa, serunei diputar sebanyak 12 kali. Sedangkan untuk imsak, kata dia total putarannya mencapai 36 kali dengan pola berhenti dan berputar yang disebut, Tun.

"Sekali tun serunei kita putar 12 kali engkol itu untuk pertanda waktunya berbuka. Apabila sudah masuk waktu imsak itu tiga kali tun berarti 12x3 berarti 36 kali engkol," kata Teungku Muhammad Zulfatan. 

Viralnya alat ini dimulai dari unggahan akun TikTok YPI Darul Mubtadi Bireuen, yang menarik lebih dari 108.000 penonton dan 3.600 komentar. Banyak warganet yang terkesan dengan keunikan budaya ini. 

Salah satunya, akun Yusman berkomentar, "Kami di Aceh saat buka puasa dan sahur menggunakan serunei manual." 

Sementara itu, akun Hartono menulis, "Umur saya sudah 43 tahun, baru kali ini saya tahu serunei manual."

Dengan suaranya yang khas dan tradisi yang melekat kuat, serunei tradisional ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga simbol budaya yang mempererat kebersamaan masyarakat Aceh selama Ramadhan. Keunikannya memberikan warna tersendiri dalam menyambut bulan suci.


Editor : Kurnia Illahi

Follow Berita iNews di Google News