skin ads
skin ads
Hikmah

Teks Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan 2025 Terbaru Penuh Hikmah

Kastolani Marzuki · Jumat, 21 Februari 2025 - 11:37 WIB
Teks Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan 2025 Terbaru Penuh Hikmah
Ilustrasi teks khutbah Jumat persiaoan menyambut Bulan Ramadhan.. (Foto: Freepik)

JAKARTA, iNews.id - Contoh teks Khutbah Jumat persiapan menyambut Bulan Ramadhan yang penuh berkah berikut ini untuk disampaikan khatib je jamaah shalat Jumat

Sesuai kalender, awal Puasa Ramadhan diperkirakan jatuh pada 1 Maret 2025. Namun, keputusan awal 1 Ramadhan 2024 masih harus menunggu sidang isbat yang akan digelar Kementerian Agama (Kemenag) pada 28 Februari 2025. 

Di pengujung Bulan Syaban yang merupakan pintu gerbang Bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Selain meningkatkan amal ibadah seperti puasa sunnah, juga persiapan fisik tentunya agar dalam kondisi sehat, sehingga bisa beribadah maksimal di Bulan Ramadhan.

Nah, berikut ini iNews.id ulas khutbah Jumat tentang 5 persiapan menyambut Bulan Ramadhan dilansir dari laman istiqlal yang ditulis KH Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA, Kabid Penyelenggara Peribadatan BPMI.

Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الَّذِيْ نَلْقَاه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

أمّا بَعْدُ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan kasih sayangnya kepada kita semua. Shalawat serta salam kita sanjungkan kepada junjungan Nabi Besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan Islam yang Rahmatan lil Alamiin.

Marilah bersama tingkatkan taqwa kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan kita mati kecuali dalam keadaan beriman dan Islam.

Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu agung, tamu kekasih kita sebagai seorang mu’min dan muslim, tamu yang senantiasa kita tunggu tunggu sepanjang tahun, yaitu bulan suci Ramadhan, bulan yang diagungkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk hamba hamba yang bertakwa. 

Bulan yang penuh barakah, bulan dimana kita dianjurkan untuk bertaubat, berburu rahmat dan ampunan dari Allah subhanahu wata'ala, mengumpulkan pahala sebanyak banyaknya, melalui ibadah ibadah yang telah Allah perintahkan dan Allah tawarkan dengan imbalan pahala yang dilipatgandakan. 

Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.

Lanjutan Khutbah I

Barangsiapa yang mendapatkan bulan itu, ia diperintahkan untuk berpuasa. Barangsiapa yang tidak dapat melaksanakan puasa karena sakit atau karena dalam perjalanan, maka wajib menggantinya pada hari-hari lain, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Allah menghendaki kemudahan, dan tidak menghendaki kesukaran.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sekiranya umatku mengetahui keutamaankeutamaan yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya mereka akan berharap agar satu tahun penuh dijadikan Ramadhan.”

Maka sudah selayaknya, dalam rangka menyambut tamu agung yang kita cintai itu, kita mempersiapkan diri, agar kita dapat menyambut kedatangan dengan tanpa mengecewakan. 

Sedemikian mulianya bulan ini hingga Rasulullah dan para sahabatnya mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan jauh-jauh hari sebelumnya. Mua’lla bin Al-Fadhl berkata,

“Dulu, para salafus shalih, enam bulan sebelum Ramadhan terbiasa memohon kepada Allah supaya bisa berjumpa dengan Ramadhan. Apabila mereka sudah menjumpai Ramadhan, mereka memohon agar diberi taufik serta dianugerahi kesungguhan dan semangat oleh-Nya. Apabila mereka telah menyempurnakannya, maka enam bulan berikutnya mereka memohon pada-Nya agar amalan-amalan yang mereka lakukan pada bulan Ramadhan diterima.”

Dua bulan sebelumnya, yaitu pada bulan Rajab, para salafus shalih sudah berkonsentrasi menyambut Ramadhan dan mereka senantiasa memanjatkan doa :

  اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ  

Artinya: “Ya Allah berkahilah hidup kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan usia kami pada bulan Ramadhan. Demikian, doa ini diulang ulang hingga masuk bulan Ramadhan.

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan pemutihan atas dosa-dosa hamba Allah yang menghendaki. Maka jangan sampai terlewatkan begitu saja tanpa kita mendapat apa apa sehingga Ramadhan pergi meninggalkan kita. Sebagai mana sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sungguh merugi bagi seseorang yang kedatangan bulan Ramadhan hingga ia pergi meninggalkannya dan dosanya belum diampuni”.

Secara umum, ada beberapa bentuk persiapan yang mesti dilakukan oleh setiap Muslim, yaitu persiapan ilmu, mental dan persiapan amal. 

Pertama: Persiapan Ilmu

Agar ibadah yang kita laksanakan benar dan sah, maka terlebih dahulu harus mengetahui ilmunya. Mengetahui syarat rukun dan hal hal yang dapat membatalkannya. Tanpa mengetahui syarat, rukun dan hal hal yang mebatalkannya, maka berpotensi apa yang kita laksanakan tidak benar. 

Jika ini yang terjadi maka seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hal puasa.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (H.R. Al-Hakim)

Maka mengetahui pengertian puasa dengan detil tata cara serta syarat rukun dan hal hal yang harus dihindari sangatlah penting, agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala.

Demikian pula dalam hal ibadah lain, shalat tarawih, i’tikaf, qiyamullail, membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Jalan terbaik bagi yang masih awam adalah mengaji dan bertanya kepada seorang guru yang diyakini keilmuannya, agar mendapatkan penjelasan-penjelasan secara mendetail.

Kedua : Persiapan Iman

Persiapan mental untuk menerima kedatangan bulan Ramadhan sangatlah penting. Sangatlah merugi bagi orang orang yang tidak siap mental menyambut kedatangan Ramadhan, sehingga ketika Ramadhan datang tidak ada hal-hal yang dapat ia lakukan kecuali perasaan tidak nyaman, atau bahkan acuh tak acuh, tidak ada bedanya bulan Ramadhan dengan bulan bulan lainnya.

Agar hati kita lebih siap dalam memasuki bulan Ramadhan, maka cara terbaik adalah dengan mengingat-ingat kembali keutamaan Ramadhan. Sebab, keutamaan inilah yang akan memotivasi seorang Muslim untuk menjalani kewajiban puasa Ramadhan dan berbagai amalan-amalan pendukungnya dengan penuh semangat. 

Perhatikan bagaimana motivasi yang disampaikan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan. 

Salman al-Farisi, salah seorang sahabat Nabi Muhammad menuturkan kepada kita, bahwa pada hari-hari terkahir bulan Sya’ban, Rasulullah berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah dekat kepadamu sekalian bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Inilah Ramadhan, bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan shalat tarawih di malam harinya sebagai sunnah”.

Barangsiapa yang ingin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu amalan sunnah, maka pahalanya seolah-olah ia melakukan amalan wajib pada bulan lain. Dan barangsiapa melakukan amalan wajib pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan tujuh puluh amalan wajib pada bulan lain. Inilah bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati yaitu jannah. 

Bulan ini juga merupakan bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan ini rezeki orang-orang beriman ditambah.

“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, maka kepadanya dibalas dengan ampunan terhadap dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka jahannam dan ia memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang berpuasa tanpa sedikitpun megurangi pahala puasa dari orang itu…” (HR. Al-Baihaqi).

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dengan mengingat-ingat keutamaan Ramadhan, maka hati kita lebih siap untuk memasuki bulan Ramadhan. Terlebih ketika kita terus berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan. 

Berdoa berarti mempersiapkan mental dan hati. Sebagaimana yang disebutkan di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika telah memasuki bulan Rajab, beliau memanjatkan doa agar dipertemukan dengan Ramadhan.

Ketiga: Persiapan Amal

Memperbanyak amal merupakan salah satu bentuk keseriusan dalam memuliakan datangnya Ramadhan. Terutama pada bulan Sya’ban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, ia berkata: Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak puasa. Tidaklah kami melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan tidaklah kami melihat beliau puasa lebih banyak selain bulan Sya’ban.” (HR Bukhari).

Keempat, Tadarus Alquran

Selain memperbanyak puasa, para salafush-shalih juga membiasakan diri dengan memperbanyak membaca al-Quran. Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, “Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Al-Quran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa”. 

Seorang salafush-shalih juga pernah berkata, “Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Quran.” 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Karena itu, Abu Bakr al-Warraq al-Balkhi rahimahullah membuat sebuah perumpamaan bahwa, “Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”

Singkatnya, agar buah bisa dipetik di bulan Ramadhan, kita mesti harus menyiapkan benih yang akan disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang banyak.

Puasa, qiyamullail, bersedekah, dan berbagai amal shalih di bulan Rajab dan Sya’ban, semua itu untuk menanam amal shalih. Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan Ramadhan, karena lezatnya Ramadhan tidak bisa datang dinikmati begitu saja. 

Namun ia butuh pengorbanan dan kesabaran serta perjuangan.

Kelima: Banyak Berdoa

Persiapan menyambut Ramadhan kelima yakni memperbanyak berdoa kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Bulan Ramadhan adalah bulan kita bermunajat kepada Allah. Maka marilah kita perbanyak doa kepada Allah, dalam berbagai kesempatan. Sehingga saat Ramadhan tiba, waktu-waktu istimewa yang mustajab, tidak kita lewatkan begitu saja tanpa munajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk memohon dan mengadukan segalanya kepada Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

Itulah khutbah Jumat 5 persiapan menyambut Ramadhan sebagai bahan muhasabah diri menyambut bulan suci.

Wallahu A'lam


Editor : Kastolani Marzuki

Follow Berita iNews di Google News