Lebih dari sekadar benda kuno, Alquran ini mencerminkan perpaduan antara keimanan, seni dan inovasi teknologi zaman dahulu.
Tinta berbahan biji mangga dan tanah liat dinilai bukti betapa ulama dan seniman pada masa itu mampu memanfaatkan alam sekitar untuk menciptakan sesuatu yang bertahan melintasi zaman.
Menurutnya, kitab ini juga menjadi simbol penting penyebaran Islam yang dimulai pada 1603 di wilayah Gowa. Meski pada awalnya tanpa pedoman Alquran, Raja Gowa ke-14 kemudian memprakarsai penulisan manual hingga terkumpul 30 juz dalam naskah yang kini menjadi harta karun sejarah ini.
Selain sebagai bukti sejarah, Alquran di Museum Balla Lompoa juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Dengan mempelajari kitab ini, mereka dapat menggali nilai-nilai budaya dan agama yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, sekaligus menghormati kreativitas dan dedikasi para pendahulu.
Dia menuturkan, keunikan tinta berbahan biji mangga yang digunakan pada Alquran ini tidak hanya mengungkapkan sisi teknis, tetapi juga menyampaikan pesan penting bahwa keimanan dan inovasi bisa berjalan seiring dalam melestarikan dan menyebarkan ajaran agama.
Alquran ini dinilai sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi masyarakat Gowa dan umat Islam secara umum.
Editor : Kurnia Illahi
Follow Berita iNews di Google News