Orang yang terjebak dalam siklus ini tidak benar-benar memahami esensi Ramadan sebagai bulan pendidikan spiritual.
Kedua, mengklaim kemenangan tanpa perjuangan. Sebagian orang mengklaim kemenangan Idul Fitri padahal selama Ramadan tidak melakukan perjuangan berarti, baik dalam ibadah personal maupun sosial. Mereka bahkan tetap menjalankan kebiasaan buruk, lalu tiba-tiba merayakan kemenangan dengan gegap gempita. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
"Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 8).
Kemenangan sejati hanya bagi mereka yang benar-benar berjuang melawan hawa nafsu selama Ramadan.
Ketiga, kesucian yang hanya tampak luar. Idul Fitri sering diidentikkan dengan pakaian baru, makanan melimpah, dan perayaan besar. Namun, bagaimana dengan pakaian batin kita? Allah berfirman:
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik." (QS. Al-A’raf: 26).
Kesucian yang sejati bukan sekadar penampilan fisik, tetapi hati yang bersih dari kesombongan, iri, dan dengki.
Keempat, silaturahmi yang hanya formalitas. Silaturahmi dan saling memaafkan menjadi tradisi Idul Fitri. Namun, apakah maaf yang kita ucapkan benar-benar tulus? Ataukah hanya sebatas formalitas di media sosial? Rasulullah SAW telah memperingatkan tanda-tanda orang munafik:
"Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim).
Silaturahmi yang hakiki adalah yang benar-benar membersihkan hati dari dendam dan prasangka buruk.
Perayaan Hari Raya Idul Fitri sejatinya bukan untuk bersenang-senang namun bersyukur kepada Allah SWT dengan banyak berzikir dan membesarkan nama Allah.
Dalam Surat Al Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
Artinya: Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya. (Al-Baqarah: 185)
Yakni agar kalian ingat kepada Allah di saat ibadah kalian selesai. Ayat tersebut semakna dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:
فَإِذا قَضَيْتُمْ مَناسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آباءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً
Artinya: Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. (Al-Baqarah: 200)
Juga firman Allah Swt.:
سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبارَ السُّجُودِ
Artinya: Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai salat. (Qaf: 39-40).
Editor : Kastolani Marzuki
Follow Berita iNews di Google News