Dalam kedudukannya itu, maka manusia yang bertaqwa adalah mereka yang bukan saja baik secara individual tapi juga baik secara sosial. Karenanya puasa memiliki dua dimensi yang integratif, seperti dua sisi mata uang, yaitu dimensi individual vertikal dan dimensi sosial horizontal.
Tidak terpenuhinya dua dimensi puasa itu secara bersamaan, menjadikan pelakunya kehilangan relevansi dan puasanya menjadi meaningless (tidak bermakna).
Taqwa menjadi standar moral tertinggi dalam Islam dan atas dasar taqwa itu pula seseorang dinilai baik, karena taqwa sebagaimana dijelaskan HR. Thabarani merupakan simpul segala kebaikan (jaami’u kulli khair).
Hal ini dapat dimengerti, karena dengan taqwa, seseorang akan berlaku adil terhadap diri dan orang lain, tidak diskriminatif baik atas dasar agama, ras, etnik, suku maupun gender, dapat selalu menghidupkan tali kasih antar sesama dan lain-lain. Pantas kalau Allah menyatakan bahwa hamba yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertaqwa (QS. al-Hujurat [49]:13).
Melalui puasa yang benar diharapkan lahir sikap-sikap tersebut, sehingga berbagai bentuk kekerasan sosial seperti marginalisasi, stereotipe, sub-ordinasi, dan ketidakadilan berkurang atau bahkan hilang.
Secara literal, taqwa adalah menjaga, memelihara dan melindungi diri dari segala hal yang akan menyakiti, merusak dan menghancurkan diri baik langsung atau tidak, dan baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.
Makna taqwa seperti ini paralel dengan sabda Nabi yang menyatakan bahwa puasa adalah benteng (HR. Bukhari dan Muslim) yang akan melindungi pelakunya dari perilaku negatif.
Di antara tubuh kita yang perlu dijaga, lebih-lebih pada saat puasa adalah mulut, perut dan kemaluan. Mengapa ketiganya perlu dijaga dan dipelihara, karena ternyata ketiganya merupakan sumber penyakit individual dan sosial. Betapa banyak penyakit dan persoalan sosial yang muncul akibat ketiganya tidak terjaga.
Langkah-langkah menjaga, memelihara dan melindungi ketiganya adalah dengan menekan agar orientasi hidup kita tidak hanya pada pemenuhan kepentingan makan, menumpuk kekayaan dan menuruti kebutuhan seksual.
Bila kita yang puasa saja masih terjebak pada orientasi tersebut, maka hakekatnya kita mengalami fiksasi atau hambatan kepribadian. Akibat mengalami hambatan kepribadian, maka pemiliknya akan kehilangan kepekaan sosialnya, kurang peduli terhadap penderitaan sesama, tidak empatik dan lebih parah lagi cenderung sulit mengakui kesalahan yang telah dilakukannya.
Orang seperti ini, hakekatnya belum dewasa secara psikologis apalagi secara spiritual. Puasa mendidik pelakunya untuk menjadi manusia dewasa.
Kultum Ramdahan #12: Puasa Menjaga Kedisiplinan
Bagi orang yang berpunya, puasa mungkin hanya satu bulan. Namun tidak demikian bagi orang miskin-papa. Mereka relatif puasa lebih panjang, sepanjang tahun karena kesulitan mencari makan.
Mereka menjadi kelompok masyarakat yang tidak sempat memikirkan bagaimana menyimpan makanan dalam kulkas, apalagi memikirkan pendidikan. Menyisihkan makanan, apalagi dalam kulkas, makan makanan bergizi, dan pendidikan bagi mereka adalah barang istimewa.
Karena itu, bagi mereka bagaimana menyambung hidup dan terus survive dengan mengais rizki di tempat-tempat pembuangan sampah seperti di Bantar Gebang meski dengan penuh resiko adalah sebuah keniscayaan.
Mereka mengumpulkan barang-barang buangan yang sering dianggap oleh mereka yang punya tidak bermanfaat. Semuanya demi untuk makan dan terus hidup, meski dengan berbagai keterbatasan.
Menurut para ulama, ustadz, kyai, dan ahli, puasa terutama puasa Ramadhan mendidik orang yang punya kelebihan yang puasa agar memiliki etika sosial berupa sikap empatik terhadap mereka yang miskin.
Editor : Kastolani Marzuki
Follow Berita iNews di Google News