Kultum Ramadhan #15: Istighfar dan Taubat Kunci Keberkahan Rezeki
Ramadhan bulan berlimpahnya kesempatan dan keuntungan. Dan padanya dibuka pintu- pintu surga, dilipat gandakan pahala dan ibadah. "Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu. Bagi orang yang puasa dikabulkan segala do’a’. Maka jadikanlah bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah, petunjuk keberuntungan, kebaikan dan tambahan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nuur (31). Ayat tersebut menjelaskan bahwa apabila Allah mengajak kepada taubat karena mengharapkan keberuntungan di segala waktu, maka sesungguhnya waktu terbaik untuk bertaubat dan paling bersih adalah pada bulan Ramadhan.
Sebab, ramadhan adalah bulan suci yang banyak keutamaan dan keistimewaan Allah berikan kepada hamba-Nya, sebagai tanda keagungan-Nya. As-Sirri as-Siqathi dikutip Abul Hasan bin Muhammad al Faqih berkata:
“Tahun adalah pohon, bulan adalah cabangnya, hai-hari adalah dahannya, jam adalah daundaunnya, dan napas hamba adalah buahnya. Maka bulan Rajab adalah hari-hari berdaunnya, Sya’ban adalah hari-hari bercabangnya, dan Ramadhan adalah hari-hari memetiknya, dan orang-orang beriman adalah para pemetiknya".
Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka.
Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.
Mereka lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah mensyari’atkan agama-Nya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja.
Padahal Allah mensyari’atkan agama ini yang juga memberi petunjuk kepada manusia tentang urusan kehidupan dan kebahagiaan di dunia. Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , ia berkata:
“Sesungguhnya do’a yang sering diucapkan Nabi adalah, Wahai Tuhan Kami’ karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari, Kitabud Da’awat, Bab Qaulun Nabi Rabbana Aatina fid Dunya Hasanah, no. Hadist 6389, II/191).
Makna istighfar dan taubat di sini bukan hanya diucapkan lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan.
Tetapi yang dimaksud dengan istighfar adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”
Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai gantinya). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.
Itulah materi kultum Ramadhan singkat 5 menit lengkap dengan dalilnya.
Wallahu A'lam
Editor : Kastolani Marzuki
Follow Berita iNews di Google News